210216_YPBB_LOGO-06
Articles

International Day of Awareness of Food Loss and Waste 2026: Kurangi Food Loss dan Food Waste untuk Lawan Krisis Iklim dan Kelaparan

Yaksa Pelestari Bumi Berkelanjutan
Second Organics Congress
Second Organics Congress, Plenary 3: Closing the Food Gap - Intercepting Food Loss and Food Waste
Bahan pangan dan makanan senilai 18.000 triliun rupiah berakhir di tempat sampah setiap tahunnya. Mitigasi krisis iklim harus memperhitungkan masalah food loss dan food waste.

 

Diperkirakan, dari setiap 13 orang di dunia, ada 1 orang yang mengalami kelaparan ketika di saat yang sama sebanyak 1,05 miliar ton bahan pangan dan makanan dibuang tiap tahunnya. Bila dikonversi dengan uang, jumlah tersebut bernilai 1 triliun dolar AS, setara dengan 18.000 triliun rupiah. 

Inilah ironi dunia saat ini. Bahan pangan yang seharusnya bisa memberi makan 1,26 miliar manusia justru berakhir di tempat sampah.

Padahal, di saat yang sama, dunia sedang berada dalam ancaman krisis pangan akibat cuaca ekstrem. Seperti lingkaran setan, krisis iklim membuat produksi pangan menurun dan harga pangan naik, sementara gunungan sampah makanan berakhir di TPA dan mengeluarkan emisi gas metana yang mempercepat pemanasan global.

Ironi ini harus menjadi refleksi di Hari Kesadaran tentang Susut dan Sisa Pangan Sedunia (International Day of Awareness of Food Loss and Waste), yang jatuh tiap 29 September.

Susut pangan atau food loss adalah istilah untuk menyebut bahan pangan yang terbuang dalam perjalanan dari produsen ke konsumen. Sisa pangan, kadang juga disebut sampah makanan atau food waste, merujuk pada makanan jadi yang dibuang.

United Nations Environment Programme melaporkan, dari seluruh bahan pangan yang dihasilkan di seluruh dunia, sebanyak 19% menjadi food loss. Data food waste global jauh lebih mengerikan, di mana 60% makanan yang terhidang di rumah tangga berakhir dibuang. Di sektor jasa boga (food service, seperti restoran, kafe, katering, dll.), angka food waste sebesar 28% dan di sektor pedagang eceran sebesar 12%.

Makanan sebanyak itu seharusnya bisa mencegah kelaparan terjadi. Nyatanya, pada 2025, ada 608–696 juta orang yang kelaparan di dunia.

Di tingkat Indonesia, angkanya tak lebih baik. Sebanyak 39,60% dari total sampah di Indonesia tiap tahunnya merupakan food waste. Ini menjadikan Indonesia sebagai penghasil food waste nomor satu di Asia Tenggara.

Persoalan food loss dan food waste menjadi fenomena global yang tidak bisa lagi dilihat sebagai isu individual. Perlu ada aksi sistemik untuk menghentikan pemborosan ini.

Belajar Mencegah Food Loss dan Food Waste: Jakarta

Isu ini menjadi salah satu bahasan dalam 2nd Regional Congress on Organics and Climate Change yang digelar di Jakarta, 23–24 September 2026. Pada Sesi Diskusi Panel III yang bertajuk “Closing the Food Gap: Intercepting Food Loss and Food Waste”, para pembicara membagikan kisah upaya pencegahan food waste yang telah dilakukan organisasinya.

Plenary 3 Second Organics Congress
Pemaparan Wida Septarina Dalam Plenary 3: Closing the Food Gap - Intercepting Food Loss and Food Waste

Wida Septarina menceritakan, ketika Yayasan Lumbung Pangan Indonesia atau Foodbank of Indonesia (FOI) didirikan pada 2015 di Jakarta, tujuannya sangat sederhana: agar masyarakat terpinggirkan dapat mengakses makanan. FOI lalu mulai menyelamatkan makanan yang berpotensi dibuang untuk disalurkan kepada orang yang membutuhkan.

Selama 10 tahun bekerja, FOI telah berhasil menyalurkan 4.000 ton makanan. Makanan yang berhasil dicegah masuk tempat sampah mayoritas berasal dari sektor industri, hotel, restoran, kafe, dan masyarakat.

Kini, FOI telah beroperasi di 90 kota Indonesia. Namun, Wida yang merupakan pendiri dan kini menjabat ketua FOI juga menceritakan tantangan utama yang dihadapi dalam meluaskan inisiatif ini.

Tantangan pertama, menyalurkan makanan memakan biaya tinggi. Untuk mengatasi itu, FOI mencoba menjalin kemitraan dengan perusahaan logistik. Tantangan kedua, pemilik usaha makanan enggan mendonasikan kelebihan makanan karena berisiko bagi bisnis. Bagi mereka, membuang makanan berlebih jauh lebih masuk akal.

Tantangan ketiga ada pada upaya edukasi pangan pada masyarakat. FOI mencoba bekerja sama dengan sekolah-sekolah agar memasukkan materi ajar tentang pertanian berkelanjutan dan pengenalan pangan lokal, serta membangun kebun sekolah.

Sembari menyelamatkan makanan, FOI aktif melakukan advokasi kepada pemerintah dan DPR agar lembaga bank makanan bisa mendapat perlindungan hukum dan dukungan regulasi. 

Inisiatif di Solo

“Di TPA Putri Cempo Solo, 400 ton sampah masuk tiap harinya, di mana 60%-nya merupakan food loss dan food waste. Budaya makan untuk self-reward di kalangan anak muda turut berkontribusi pada sampah makanan ini,” demikian ujar Jody Julian dari Carefood Solo.

Carefood Solo adalah komunitas berbagi makanan yang terdiri dari kelompok pemuda, asosiasi katering, dan komunitas pengolahan makanan sehat. Komunitas ini didukung oleh Gita Pertiwi dan memiliki tim pengelola untuk memastikan kelancaran operasional harian kegiatan berbagi makanan.

Second Organics Congress
Pemaparan Jody Julian Dalam Plenary 3: Closing the Food Gap - Intercepting Food Loss and Food Waste

Dari tahun 2020 hingga 2024, gerakan ini telah menyelamatkan 63.110,57 kg (sekitar 63,1 ton) makanan berlebih agar tidak menjadi sampah. Carefood Solo mengumpulkan makanan berlebih dari hotel, restoran, kafe, katering, dan petani yang sedang kelebihan panen. Makanan yang terkumpul kemudian disortir. Makanan tidak layak makan disalurkan kepada peternak maggot dan black soldier fly untuk pakan ternak.

Untuk menyalurkan makanan layak makan, Carefood mendirikan 12 lapak pangan di pemukiman miskin dan di pemukiman dengan angka stunting tinggi. Makanan layak makan ditempatkan di lapak-lapak pangan tersebut agar bisa diambil oleh kelompok sasaran, yakni warga miskin, difabel, panti jompo, panti asuhan, pemulung, dan pekerja kebersihan.

Warga yang peduli juga dapat mendonasikan makanan ke lapak pangan. 

Selain lewat lapak pangan, Carefood juga melakukan edukasi penyelamatan makanan berlebih di ruang-ruang publik, seperti car free day dan acara komunitas.

Untuk memperbesar gerakannya, Carefood ikut membentuk Aliansi Berbagi Pangan Solo yang beranggotakan 15 komunitas anak muda. Aliansi ini aktif melakukan advokasi pengelolaan food loss dan food waste kepada wali kota Surakarta.

Inisiatif di Chennai, India

“Secara global, kita membuang 1 miliar ton makanan setiap tahun, atau sepertiga dari total makanan yang diproduksi untuk konsumsi manusia. Betapa kontradiktif: di satu sisi kita khawatir mengenai dampak fenomena iklim seperti El Niño terhadap agrikultur, tapi di sisi lain kita membuang sepertiga makanan yang tersedia di meja makan kita,” demikian Vamsi Sankar Kapilavai dari Citizen consumer and civic Action Group (CAG) India membuka paparannya. 

Vamsi menggambarkan betapa banyaknya sumber daya yang diboroskan dalam urusan food waste dan food loss lewat contoh kasus Pasar Induk Koyambedu di Kota Chennai, ibu kota negara bagian Tamil Nadu, India.

Second Organic Congress
Pemaparan Vamsi Sankar Kapilavai Dalam Plenary 3: Closing the Food Gap - Intercepting Food Loss and Food Waste

Pasar ini merupakan salah satu pasar sayur, buah, dan bunga terbesar di Asia. Tiap harinya, 6.000 ton komoditas diangkut ke pasar ini. Pasar ini menghasilkan sampah sebanyak 170–180 ton per hari.

Untuk mengongkosi pengangkutan sampah-sampah itu ke TPA, manajemen pasar menghabiskan 1 juta dolar AS (Rp18 miliar) tiap tahunnya.

Pemborosan luar biasa ini bisa terjadi karena, pertama, 64% pedagang di pasar tidak memilah sampahnya.

Penyebab kedua, selama musim pancaroba, komoditas lebih mudah membusuk. “Membangun gudang bongkar muat sederhana [untuk menyimpan komoditas] di pasar dapat mencegah terjadinya 50 ton sampah per hari,” ujar Vamsi.

Ketiga, kurangnya koordinasi antar-dinas pemerintah dalam mengurus pengelolaan sampah. Keempat, minimnya data jenis-jenis sampah membuat pendanaan pengelolaan sampah sulit didapat.

Solusi untuk tantangan tersebut dimulai dari memilah sampah. Bahan pangan yang masih bisa dimakan disalurkan ke pihak lain, sampah organik yang tak bisa dimakan dikompos dan diolah menjadi biogas. Pekerja sampah tidak resmi direkrut untuk melaksanakan operasionalisasi ini.

Pelaksanaan solusi yang jelas menuntut koordinasi pemerintah yang jelas juga. Dinas-dinas pemerintah didesak untuk berhenti bekerja sendiri-sendiri. Mereka juga harus punya standar pengukuran dan pelaporan sampah yang pasti.

Namun, Vamsi menambahkan, kebijakan pengelolaan sampah sebaik apa pun akan sia-sia jika tidak ada kepastian pendanaan. Menurutnya, pengelolaan sampah tidak boleh hanya mengandalkan hibah jangka pendek. Pemerintah harus menyediakan pos anggaran rutin untuk mengerjakan ini.

Jelas bahwa penanganan masalah food loss dan food waste tidak hanya bermanfaat mengurangi ketimpangan akses pangan di masyarakat. Mengurangi food loss dan food waste berarti menghemat sumber daya planet dan mengurangi laju perubahan iklim. Semakin sedikit sampah organik, yang di dalamnya termasuk sampah makanan, masuk ke TPA, semakin berkurang pula gas rumah kaca yang dihasilkan. Masalah food loss dan food waste tak boleh diabaikan dalam perancangan mitigasi krisis iklim.

Rekaman sesi diskusi panel mengenai food loss dan food waste di 2nd Regional Congress on Organics and Climate Change dapat disaksikan di tautan ini.[]

Regional Congress on Organics and Climate Change adalah forum tingkat Asia-Pasifik yang mempertemukan pemerintah, non-governmental organization, praktisi zero waste, akademisi, dan pekerja sampah untuk merumuskan langkah nyata aksi iklim, khususnya di bidang pengelolaan sampah organik terdesentralisasi dan mitigasi emisi gas metana.

Kongres kedua di Jakarta pada 23–24 September diselenggarakan oleh Dietplastik Indonesia, Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI), dan Global Alliance for Incinerator Alternatives (GAIA) dengan dukungan dari Global Methane Hub, Sequoia Climate Foundation, Urban Movement Innovation Fund, dan Plastic Solutions Fund.

Yaksa Pelestari Bumi Berkelanjutan (YPBB) merupakan anggota AZWI.

 

RELATED TOPICS: #foodlossandwaste, #iklim, #metana, #organicscongress, #pangan
Scroll to Top