210216_YPBB_LOGO-06
Articles

KONTRIBUSI YPBB DI APFSD UN ESCAP 2026: MENDORONG TRANSFORMASI TATA KELOLA LIMBAH ORGANIK UNTUK MITIGASI METANA DARI INDONESIA KE TINGKAT REGIONAL DI ASIA-PASIFIK

Admin YPBB
YPBB at APFSD UN ESCAP 2026
Foto Bersama Sesi Regional Policy Dialogue “Methane Mitigation from Waste Sector” APFSD UN ESCAP di Bangkok, 23 Februari 2026. Foto: Dokumentasi UN ESCAP
Pada 23–27 Februari 2026, Asia-Pacific Forum on Sustainable Development (APFSD) ke-13 diselenggarakan di Pusat Konferensi PBB, Bangkok, Thailand. Forum tahunan yang difasilitasi oleh United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (UN ESCAP) ini mempertemukan badan-badan PBB, pemerintah, organisasi internasional, masyarakat sipil, dan berbagai pemangku kepentingan untuk meninjau capaian Agenda 2030 dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) di kawasan Asia-Pasifik.

Fokus APFSD 2026: Aksi Transformatif untuk SDGs

APFSD ke-13 mengangkat tema Tindakan transformatif, adil, inovatif, dan terkoordinasi untuk Agenda 2030 dan SDG-nya untuk masa depan berkelanjutan bagi semua”. Tahun ini, forum meninjau kemajuan beberapa tujuan prioritas, yaitu:
  • SDG 6: Air Bersih dan Sanitasi
  • SDG 7: Energi Terjangkau dan Bersih
  • SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur
  • SDG 11: Kota dan Komunitas Berkelanjutan
  • SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan
Selain itu, forum juga membahas tindak lanjut Konferensi Internasional Keempat tentang Pembiayaan Pembangunan.

Peran YPBB: Mitigasi Metana dari Sektor Sampah

Yaksa Pelestari Bumi Berkelanjutan (YPBB) mendapat kesempatan berkontribusi dalam sesi Regional Policy Dialogue “Methane Mitigation from Waste Sector” sebagai salah satu panelis. Dalam sesi ini, Direktur Eksekutif YPBB, David Sutasurya, memaparkan pengalaman membangun tata kelola limbah organik untuk mitigasi metana dengan studi kasus di Indonesia.
David Sutasurya
David Sutasurya dalam Regional Policy Dialogue “Methane Mitigation from Waste Sector” APFSD UN ESCAP di Bangkok, 23 Februari 2026. Foto: Dokumentasi UN ESCAP
Dalam paparannya, disampaikan bahwa salah satu sumber utama emisi metana di Indonesia berasal dari sampah, terutama akibat pengelolaan sampah organik yang tidak memadai serta praktik pembuangan sampah tercampur yang masih umum terjadi, sehingga menciptakan kondisi anaerob yang menjadi pemicu utama terbentuknya gas metana.  Kondisi ini menyebabkan sampah organik menumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA) dan menghasilkan gas metana dalam jumlah besar. Sebagai solusi, YPBB mendorong sistem desentralisasi pengelolaan sampah sedekat mungkin dari sumber dengan dukungan perbaikan tata kelola pengelolaan sampah dari pemerintah. Melalui pendekatan ini, warga memilah sampah sejak dari rumah menjadi kategori organik, non-organik, dan residu
  • Sampah organik kemudian diolah di kawasan melalui pengomposan, budidaya maggot, atau metode lain yang sesuai.
  • Sampah non-organik high value diproses melalui sistem daur ulang di fasilitas pemulihan material (Material Recovery Facility) dan residu masuk ke TPA
Dengan pemilahan dari sumber, sampah organik tidak lagi berakhir di TPA sehingga emisi metana dapat ditekan secara signifikan sekaligus memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan. Pada sesi ini, YPBB membagikan praktik baik pengelolaan sampah terdesentralisasi di Kota Bandung yang kini sudah mulai mengintegrasikan pengelolaan sampah organik dengan pangan dalam inisiatif Kang Pisman dan Buruan Sae, juga Kabupaten Gianyar yang telah melakukan pelarangan sampah organik ke TPA Temesi, efektif per 1 Mei 2024. Bersama GAIA, YPBB juga telah menerbitkan laporan tentang pendekatan zero waste to zero emissions dengan studi kasus Kota Bandung, yang memperkuat bukti bahwa pengelolaan sampah berbasis komunitas berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca.

Keterlibatan dalam SDG 7 dan SDG 11

Selain menjadi panelis, YPBB turut berpartisipasi dalam diskusi roundtable:
  • SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau): membahas transisi energi yang inklusif dan akses energi bersih untuk semua. Pada sesi ini, YPBB membagikan pemikiran tentang pentingnya Just Transition di sektor energi;
  • SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan): menyoroti pentingnya pembangunan kota yang aman, tangguh, rendah emisi, dan ramah lingkungan. Pada sesi ini, dilakukan kerja bersama untuk mereview draft dan dokumen terkait SDG 11.
Kehadiran YPBB dalam kedua diskusi ini menegaskan bahwa pengelolaan sampah dan mitigasi metana merupakan bagian penting dari upaya membangun kota berkelanjutan sekaligus mendukung agenda energi bersih.

Dari Indonesia untuk Asia-Pasifik

Partisipasi YPBB di APFSD 2026 menunjukkan bahwa praktik baik dari tingkat lokal dapat menjadi referensi di tingkat regional. Pengalaman Kota Bandung dan Gianyar, misalnya, menjadi contoh konkret bagaimana pendekatan berbasis masyarakat mampu berkontribusi pada pengurangan emisi, penguatan sistem kota, dan pencapaian SDGs. Melalui forum ini, YPBB tidak hanya membawa suara masyarakat sipil Indonesia ke panggung Asia-Pasifik, tetapi juga memperkuat kontribusi Indonesia dalam agenda pembangunan berkelanjutan global.
RELATED TOPICS: #metana, #pengelolaansampah, #SDGs

Apa pendapat Anda? Yuk tulis di kolom komentar!

Scroll to Top