210216_YPBB_LOGO-06
Articles

MELAWAN KEPRAKTISAN YANG MERESAHKAN LINGKUNGAN DENGAN WADAH GUNA ULANG

Ananda Yanti
Ilustrasi Wadah Guna Ulang. Sumber Foto: Getty Image / Patpitchaya via Canva
Bagi sebagian orang, membawa botol minum atau tumbler dianggap merepotkan. Tas terasa lebih berat, dan perlu persiapan tambahan saat berpergian. Namun, di balik semua itu, penggunaan tumbler atau wadah guna ulang membawa banyak manfaat, baik jangka pendek maupun panjang. Salah satu manfaat utamanya adalah membantu mengatasi persoalan sampah plastik. Dengan menggunakan wadah guna ulang, kita ikut mengurangi jumlah plastik sekali pakai yang menumpuk di tempat pembuangan dan mencemari lingkungan. Hal ini telah dibuktikan oleh Wiwik (@wiwikadzkiya) dan Lucia (@luciaeirene_mangumban), pemenang giveaway #PlasticFreeJuly dari YPBB. Keduanya telah konsisten menggunakan wadah guna ulang dalam kehidupan sehari-hari. Wiwik selalu membawa kotak makan dan tumbler saat membeli makanan di kaki lima, seperti es dawet, pecel, atau tahu bulat. Meski sering mendapat tatapan heran dari penjual dan pembeli lain, ia tetap teguh menjalankan kebiasaannya demi mengurangi sampah plastik. Begitu pula Lucia. Ia terbiasa membawa kotak makan untuk bekal ke kantor. Walau awalnya terasa repot, lama-kelamaan kebiasaan ini menjadi bagian dari rutinitasnya. Konsistensi serupa juga ditunjukkan oleh Koko (@kokokr8), pemenang giveaway YPBB lainnya. Selain menggunakan tumbler dan kotak makan, ia selalu membawa tote bag ke mana pun pergi. Tote bag dianggapnya sebagai benda penting pengganti kantong plastik, terutama saat berbelanja di supermarket atau membeli jajanan di kaki lima.
Foto wadah guna ulang yang telah biasa digunakan oleh Wiwik, Lucia dan Koko, pemenang giveaway #PlasticFreeJuly YPBB 2024. Foto: Dokumentasi YPBB

Wadah Guna Ulang: Solusi Sederhana untuk Masalah Besar

Kebiasaan Wiwik, Lucia, dan Koko layak ditiru. Tumbler, tote bag, dan kotak makan adalah tiga contoh wadah guna ulang yang mudah diakses masyarakat.
  • Tote bag menggantikan kantong keresek dan mudah dilipat serta dibawa ke mana-mana.
  • Tumbler membantu mengurangi penggunaan botol air plastik sekali pakai.
  • Kotak makan memungkinkan kita membawa bekal sendiri, sekaligus menekan jumlah sampah kemasan makanan cepat saji.
Ketiga benda ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga lebih ekonomis. Dengan kebiasaan sederhana ini, setiap individu dapat berkontribusi nyata dalam mendukung gaya hidup berkelanjutan.

Tantangan dan Solusi Penggunaan Plastik Sekali Pakai di Indonesia

Sejak pertengahan abad ke-20, plastik sekali pakai menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia karena kepraktisannya. Di Indonesia, budaya “pakai dan buang” ini sudah mengakar kuat, membuat penggunaan wadah guna ulang terasa tidak biasa. Padahal, konsep penggunaan wadah berulang sudah ada sejak lama. Contohnya, rantang logam yang dulu digunakan petani untuk membawa bekal. Kini, berbagai jenis wadah guna ulang dari bahan tahan lama tersedia luas di toko maupun e-commerce. Sampah plastik di Indonesia masih menjadi masalah besar. Selain menumpuk di TPA, plastik juga mencemari tanah, sungai, dan laut. Jika tidak diatasi, sampah ini akan menjadi bom waktu bagi lingkungan. Dari sisi biaya, penelitian sederhana YPBB menunjukkan bahwa penggunaan wadah guna ulang bisa menghemat hingga 43% dibanding wadah sekali pakai. Penghematan ini tidak hanya dirasakan konsumen, tapi juga berpotensi menekan biaya pengelolaan sampah dan dampak lingkungan.
Perbandingan biaya konsumsi AMDK dengan galon isi ulang.
Daur hidup kemasan sekali pakai dan kemasan dengan sistem guna ulang. Sumber: Eunomia, 2023

Kebijakan dan Penegakan Hukum: Kunci Pengurangan Sampah Plastik

Perubahan gaya hidup individu sangat penting, tetapi tidak cukup. Diperlukan dukungan kebijakan yang kuat dari pemerintah agar dampaknya lebih luas. Contohnya, DKI Jakarta telah melarang penggunaan kantong plastik sekali pakai di pusat perbelanjaan, toko swalayan, dan pasar melalui Peraturan Gubernur Nomor 142 Tahun 2019. Pelaku usaha wajib menyediakan kantong belanja ramah lingkungan, dan pelanggaran dapat dikenai denda hingga pencabutan izin usaha. Selain itu, pemerintah Indonesia menargetkan pengurangan sampah sebesar 30% pada tahun 2025, serta pelarangan penuh plastik sekali pakai pada 2029, termasuk styrofoam, sedotan plastik, alat makan plastik, dan kemasan multilayer. Upaya ini perlu terus diperkuat dan direplikasi di daerah lain. Masalah sampah adalah persoalan nasional—bahkan global—yang hanya bisa diatasi dengan kolaborasi antara individu, komunitas, dan pemerintah.
RELATED TOPICS: #gunaulang, #plasticfreejuly, #reuse

Apa pendapat Anda? Yuk tulis di kolom komentar!

Scroll to Top