PELATIHAN BERSAMA MAHASISWA UNIVERSITAS NAGOYA JEPANG, MENYELAMI LEBIH DALAM PERMASALAHAN SAMPAH DI INDONESIA
•Admin Humas
Foto: Pelatihan di Rumah Kail, Cigarukgak Kidul, Cilengkrang. Sumber: Dokumentasi YPBBSabtu, 24 Agustus 2024 – YPBB berkesempatan membawakan pelatihan kepada para mahasiswa asal Jepang dengan tujuan mengenalkan kondisi pengelolaan sampah dan tantangannya secara umum di Indonesia. Para mahasiswa tersebut tengah mengikuti program dari Tongali, sebuah lembaga pendidikan yang didedikasikan untuk membina kewirausahaan di komunitas akademis Jepang. Para mahasiswa tersebut rencananya akan mengembangkan karya dan ide inovatif menjadi bisnis yang sukses dengan mengangkat inovasi, salah satunya tentang permasalahan sampah di Indonesia.Para mahasiswa yang terpilih, sejumlah 6 orang, akan mengikuti program bersama IBEKA selama di Indonesia. Salah satu kegiatannya yakni mengikuti pelatihan dan kunjungan lapangan ke Pojok Kang Pisman RUMPI RW 03, Cisaranten Kulon bersama YPBB untuk memahami permasalahan pengelolaan sampah di Indonesia sebagai bahan perancangan bisnis modelnya.Kegiatan pelatihan dilaksanakan di Rumah Kail, Cigarukgak Kidul, Cilengkrang. Pelatihan dimulai sejak pukul 10.00 pagi, dengan materi pembuka yakni Zero Waste Solution. Sebagai pembuka, Lutfi Pamungkas, fasilitator pelatihan, mengajak para peserta merefleksikan hasil amatannya selama di Indonesia terhadap kondisi sampah yang terlihat di jalanan. Sambil menayangkan sebuah gambar tumpukan sampah di jalan raya, Lutfi menerangkan bahwa apa yang dilihat oleh para peserta dan gambar yang dipaparkan hanyalah masalah yang ada di “Permukaan”. Sehingga masalah yang lebih serius yakni terdapat pada pengelolaan sampah secara keseluruhan.Menurut Lutfi terdapat dua pokok masalah yang cukup serius dalam pengelolaan sampah, yakni kebijakan yang belum baik dan penegakan hukum yang lemah. Selanjutnya, ia menjelaskan juga bahwa pengelolaan sampah di Indonesia relatif hanya memindahkan “Masalah” dari satu tempat ke tempat lain. Dengan sistem kumpul-angkut-buang, sehingga menyebabkan timbulan sampah yang cukup signifikan di TPA dan tidak ada pengolahan yang berarti.Foto: Sesi pelatihan Zero Waste Solution, difasilitasi oleh Luthfi Pamungkas. Sumber: Dokumentasi YPBBKondisi demikian saling berkait kelindan dengan krisis iklim yang sedang dihadapi. Selain itu krisis iklim yang terjadi akibat dari ekonomi linear yang selama ini berjalan, dimana setiap tahapnya menimbulkan dampak lingkungan dari industri ekstraktif hingga konsumsi dan menjadi sampah.Sepanjang pemaparan materi, para peserta terlihat antusias untuk mempelajari isu krisis iklim dan permasalahan pengelolaan sampah di Indonesia.Di akhir sesi, Lutfi menjelaskan pentingnya pendekatan Zero Waste dalam pengelolaan sampah. Pengelolaan sampah yang selama ini menggunakan sistem kumpul-angkut-buang selain memperburuk permasalahan sampah juga memakan biaya yang cukup besar. Sehingga, pendekatan Zero Waste menjadi penting untuk dipraktekkan agar sampah dapat selesai sejak dari sumber dan tidak terangkut hingga ke TPA.Sesi selanjutnya dipandu oleh Eliza Putri Ayu, sebagai fasilitator sesi. Eliza membawakan topik tentang tata kelola dan model bisnis persampahan di Indonesia. Menurut Eliza, model bisnis yang memanfaatkan pengelolaan sampah akan sulit berjalan jika tata kelola persampahan di Indonesia belum optimal. Sehingga, tata kelola persampahan sangat berperan besar, baik dalam permasalahan sampah maupun bisnis yang berbasiskan pengelolaan sampah.Foto: Sesi Pelatihan Tata Kelola dan Model Bisnis Persampahan. Difasilitasi oleh Eliza Putri Ayu dari YPBB. Sumber: Dokumentasi YPBBMemasuki istirahat sore, para peserta kemudian diajak melakukan kunjungan ke Pojok Kang Pisman RUMPI RW 03, Cisaranten Kulon untuk melihat praktik model bisnis yang memanfaatkan sampah organik.Foto: Para peserta diajak berkeliling di tempat pengelolaan sampah oleh Gina dan diskusi diterjemahkan oleh Saniar Rabithoh Wijaya YPBB. Sumber: Dokumentasi YPBBSesampai di lokasi kunjungan, para peserta pelatihan langsung disambut oleh penanggung jawab Pojok Kang Pisman, yakni Gina Kurniasih. Gina langsung mengajak para peserta berkeliling ke tempat model bisnis yang memanfaatkan sampah organik tersebut. Terlihat sebuah kebun kecil yang disulap seperti taman di tengah pemukiman. Sambil keliling, Gina menceritakan awal mula terbentuknya Pojok Kang Pisman, “Awalnya membuat pengolahan sampah semacam ini sulit. Mengajak warga untuk mau terlibat juga sulit, bahkan saya dibilang aneh,” terang Gina.Foto: Para peserta diajak melihat langsung budidaya lele, ayam dan perkebunan yang dikelola oleh Pojok Kang Pisman. Sumber: Dokumentasi YPBBKesulitan tersebut tidak menjadi hambatan untuk Gina. Ia lantas melakukan door to door ke rumah-rumah warga untuk mengajak mengelola sampahnya, memisahkan sampah organik dan non-organik lalu menyetorkannya ke tempat yang disediakan. Berkat upayanya tersebut, kini warga mulai terlibat bahkan menjadi nasabah di bank sampah yang disediakan.Hal lain yang membuat tempat pengelolaan sampah Pojok Kang Pisman menjadi sangat menarik adalah tidak terciumnya aroma tidak sedap. Baik aroma dari sampah organik maupun proses pengelolaan sampahnya. Seperti melalui pakan untuk peternakan ayam dan budidaya ikan lele. Umumnya, peternakan ayam dan budidaya lele menimbulkan aroma tidak sedap. “Ayam dan lele disini diberi makan dengan manajemen pemberian pakan yang teratur dan juga makanan organik yang membuatnya tidak berbau,” terang Bu Gina.Berbeda dengan peternakan dan budidaya lele pada umumnya yang seringkali terkesan kumuh, di tempat ini justru peternakan dan budidaya lele menyatu dengan kebun dan taman yang dibuat, dan terlihat sangat rapih sehingga membuat rasa nyaman.Sesi kunjungan ini memberikan pengalaman baru juga bagi para mahasiswa asal Jepang. Kazuki, salah seorang peserta, berpendapat bahwa Pojok Kang Pisman merupakan tempat yang sangat nyaman. Banyak orang berkumpul dan bisa menjadi tempat antar warga saling mengobrol. Menurut Kazuki juga bahwa tempat ini merupakan hasil dari kerja keras dari tim Pojok Kang Pisman.Kunjungan ini sekaligus menutup pelatihan para mahasiswa Universitas Nagoya, Jepang ini. Para peserta, seluruh tim YPBB, IBEKA dan Pojok Kang Pisman menutup pertemuan dengan berfoto bersama.Foto: Sesi foto bersama para peserta, tim IBEKA dan tim Pojok Kang Pisman. Sumber: Dokumentasi YPBB***Pelatihan ini diharapkan dapat dapat memberi gambaran lebih tentang permasalahan sampah di Indonesia. Sehingga, dapat menjadi basis perancangan bisnis model oleh para mahasiswa di program Tongali agar dapat mencapai tujuan yang sudah direncanakan.